1. Ciri-ciri ulul albab yang disebut dalam al-
Qur’an adalah, pertama, bersungguh-
sungguh menggali ilmu pengetahuan.
Menyelidiki dan mengamati semua rahasia
wahyu (al-Qur’an maupun gejala-gejal
alam), menangkap hukum-hukum yang
tersirat di dalamnya, kemudian
menerapkannya dalam masyarakat demi
kebaikan bersama.
"Sesungghnya, dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
ulul albab" (QS, Ali Imran, 190).
Menurut Ibn Katsir, selain mampu memahami
fenomena alam dengan segenap hukumnya
yang menunjukan tanda-tanda keagungan,
kemurahan dan rahmat Ilahy, ulul albab
juga seorang yang senantiasa berdzikir dan
berpikir, yang melahirkan kekuatan
intelektual, kekayaan spiritual dan
keluhuran moral dalam dirinya.
Ibn Salam fisikawan muslimyang
mendapatkan hadiah Nobel tahun 1979
menyatakan bahwa dalam al-Qur’an
terdapat dua perintah; tafakur dan
tasyakur. Tafakur adalah merenungkan
serta memikirkan semua kejadian yang
timbul dalam alam semesta, kemudian
menangkap hukum-hukumnya yang dalam
bahasa modern dikenal dengan istilah
science. Sedang tasyakur adalah
memanfaatkan segala nikmat dan karunia
Allah dengan akal pikiran, sehingga nikmat
tersebut semakin bertambah yang kemudian
dikenal dengan istilah teknologi. Ulul Albab
menggabungkan keduanya; memikirkan
sekaligus mengembangkan dan
memanfaatkan hasilnya, sehingga nikmat
Allah semakin bertambah (Jalaluddin
Rahmad, 1988, 213). "Sesungguhnya, jika
kamu bersyukur, pasti kami akan menambah
(nikmat) kepadamu. Jika kamu mengingkari
(nikmat- Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku
sangat pedih"(QS, Ibrahim, 7).
Manusia akan mampu menemukan citra
dirinya sebagai manusia, serta mampu
menaklukkan jagat raya bila mau berpikir
dan berdzikir. Berpengetahuan tinggi serta
menguasai teknologi. "Jika kamu mampu
menembus (melintasi) penjuruu langit dan
bumi, maka lintasilah. Kamu tidak akan
mampu menembusnya, kecuali dengan
kekuatan (teknologi)" (QS, Ar-Rahman, 33).
2. Kedua, selalu berpegang pada kebaikan
dan keadilan.
Ulul Albab mampu memisahkan yang baik dari
yang jahat, untuk kemudian memilih yang
baik. Selalu berpegang dan mempertahankan
kebaikan tersebut walau sendirian dan
walau kejahatan didukung banyak orang.
"Tidak sama yang buruk (jahat) dengan baik
(benar), meskipun kuantitas yang jahat
mengagumkan dirimu. Bertaqwalah hai ulul
albab, agar kamu beruntung" (QS, Al-
Maidah, 100)
Dalam masyarakat, Ulul Albab tampil bagai
seorang "nabi". Ia tidak hanya asyik dalam
acara ritual atau tenggelam dalam
perpustakan; sebaliknya tampil dihadapan
umat. Bertabligh untuk memperbaiki
ketidakberesan yang terjadi di tengah-
tengah masyarakat, memberikan peringatan
bila terjadi ketimpangan dan memprotesnya
bila terjadi ketidak-adilan dan kesewenang-
wenangan.
3. Ketiga, teliti dan kritis dalam menerima
informasi, teori, proporsisi ataupun dalil
yang dikemukakan orang lain.
Bagai sosok mujtahid, ulul albab tidak mau
taqlid pada orang lain, sehingga ia tidak
mau menelan mentah-mentah apa yang
diberikan orang lain, atau gampang
mempercayainya sebelum terlebih dahulu
mengecek kebenarannya. "Yang mengikuti
perkataan lalu mengikuti yang paling baik
dan benar, mereka itulah yang diberi
petunjuk oleh Allah, dan mereka itulah ulul
albab" (QS, Az-Zumar, 18).
4. Keempat, sanggup mengambil pelajaran
dari sejarah umat terdahulu.
Sejarah adalah penafsiran nyata dari suatu
bentuk kehidupan.
Dengan memahami sejarah kemudian
membandingkan dengan kejadian masa
sekarang, ulul albab akan mampu membuat
prediksi masa depan, sehingga mereka
mampu membuat persiapan untuk menyambut
kemungkinan- kemungkinan yang bakal
terjadi.
Sampai pada ciri-ciri ini, ulul albab tidak
ada bedanya dengan intelektual yang lain.
Tapi bila dilanjutkan, maka ada nilai tambah
yang dimilikinya yang tidak dimiliki oleh
seorang intelektual biasa.
5. Yakni, kelima, rajin bangun malam untuk
sujud dan rukuk dihadapan Allah swt.
Ulul Albab senansiasa "membakar"
singgasana Allah dengan munajadnya ketika
malam telah sunyi. Menggoncang Arasy-Nya
dengan segala rintihan, permohonan ampun,
dan pengaduan segala derita serta
kebobrokan moral manusia di muka bumi. Ulul
Albab sangat "dekat" dengan Tuhannya.
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih
beruntung), ataukah orang yang beribadah
di waktu malam dengan sujud dan berdiri,
sedang ia takut kepada (adzab) akherat dan
mengharap rahmat Tuhannya. Katakanlah:
'Adakah sama orang yang mengetahui
dengan orang yang tidak mengetahui?'.
Sesungguhnya, hanya ulul albab yang dapat
menerima pelajaran"(QS, Az-Zumar, 9).
6. Keenam, tidak takut kepada siapapun,
kecuali Allah semata.
Sadar bahwa semua perbuatan manusia akan
dimintai pertanggungan jawab, dengan
bekal ilmunya, ulul albab tidak mau berbuat
semena-mena. Tidak mau menjual ilmu demi
kepentingan pribadi (menuruti ambisi politik
atau materi). Ilmu pengetahuan dan
teknologi ibarat pedang bermata dua.
Ia dapat digunakan untuk tujuan-tujuan
baik, tapi bisa juga digunakan dan
dimanfaatkan untuk perbuatan-perbuatan
yang tidak benar. Tinggal siapa yang
memakainya. Ilmu pengetahuan sangat
berbahaya bila di tangan orang yang tidak
bertanggung jawab. Sebab, ia tidak akan
segan-segan menggunakan hasil
teknologinya untuk menghancurkan sesama,
hanya demi menuruti ambisi dan nafsu
angkara murkanya.
Dengan demikian, ulul albab bukan sekedar
ilmuwan atau intelektual. Dalam diri ulul
albab terpadu sifat ilmuwan, sifat
intelektual dan sekaligus sifat orang yang
dekat dengan Allah. Atau dalam terjemahan
UIN Malang, di istilahkan dengan intelek
professional yang ulama dan ulama yang
intelek profesional.
Dalam dunia pendidikan dewasa ini, kita
sangat mengharapkan perguruan tinggi
mampu mencetak sosol sarjana yang
mempunyai kemampuan keilmuan dan
kepribadian seperti itu. Seorang sarjana
yang benar-benar, bukan hanya sekedar
sarjana.